Di hutan Ararimba tinggalah beberapa binatang yang saling bersahabat. Mereka adalah Atta si semut, Buffy kupu-kupu, Bumbee sang kelinci, dan Tooty burung kecil.

Tooty burung kecil adalah seekor bayi burung, tetapi ia sudah bisa terbang dan bernyanyi. Burung kecil yang malang ini tidak mempunyai papa dan mama, ia hidup sebatang kara. Telurnya menetas karena hangat sinar matahari dan karena sahabat-sahabatnya menjaga telur itu dengan sangat baik.

Meskipun demikian, Tooty tidak pernah bersedih, ia selalu menyambut hari dengan riang, dengan senyumnya dan nyanyian gembira yang tidak pernah berhenti terdengar di Ararimba.

Tetapi hari ini lain. Ararimba tampak berbeda, tidak ada lagu gembira dari Tooty burung kecil. Ararimba bersedih hari ini.

“Aku takut.” Kata Tooty tiba-tiba dari pucuk batang pohon.

”Apakah itu yang membuatmu berhenti bernyanyi hari ini tooty?” tanya Atta si semut dengan lembut.

”Hu uh.” Tooty mengangguk lemas.

”Tapi apa yang kau takutkan Tooty?” tanya Buffy kupu-kupu.

”Aku telah melihat Monster!” jawab Tooty.

”Monster!!” seketika Bummbee sang kelinci berhenti mengunyah wortelnya. Dengan kacau ia berusaha bersembunyi diantara semak-semak yang tidak mampu menutupi tubuhnya yang gendut. ”Dimana monsternya…? dimana…?!!” Bumbee mulai berteriak-teriak ketakutan.

”Diamlah Bumbee… biarkan Tooty bercerita” kata Buffy kesal.

”Apakah kau bermimpi bertemu monster Totty?” Atta selalu menjadi yang paling sabar dan bijaksana di antara mereka.

”No…no…. tidak teman-teman…. aku benar-benar melihatnya. Hiks..hiks… huaaa…huaa….” Totty burung kecil mulai menangis dengan nyaring.

”Cup cup cup… diamlah Totty… katakan kepada kami apa yang sedang terjadi!” kata buffy dengan frustasi berusaha membuat teman kecilnya berhenti menangis, ia sibuk beterbangan ke sana kemari.

”Dimana kau melihatnya tooty? Seperti apa bentuknya? Maukah kau berhenti menangis dan menceritakanya kepada kami?” kata Atta si semut.

”Aku melihatnya tadi saat aku melatih sayapku, terbang ke sudut timur Ararimba. Monster itu menakutkan! Sangat besar, berwarna buruk, dan berbau busuk. Hua….hua…. hua…..” Totty mengakhiri cerita singkatnya dengan menangis lagi.

”Kalau kami memintamu mengantarkan kami ke tempat monster itu apakah kau berani Totty?”

”Kami? Apa maksudmu dengan kami Bumbee?” tanya Buffy curiga.

”Kami, berarti Atta, kau, dan aku. Karena kita tidak akan tahu pasti bagaimana harus bertindak jika kita tidak melihatnya sendiri.” tidak seekorpun dari mereka tahu darimana Bumbee mendapatkan keberaniannya. Tetapi mereka setuju dengan ide itu dan meminta Totty burung kecil untuk menjadi pemberani dan mengantar mereka ke tempat Monster itu tinggal.

###

Keempat sahabat itu berjalan menyusuri jalur kecil Ararimba yang mengarah ke sudut timur. Mereka berjuang untuk menyembunyikan rasa takut yang datang. Sudut timur Araimba sangat gelap, pepohan disana jauh lebih lebat dari sudut Ararimaba yang lain. Mereka semua mengakui bahwaTotty burung kecil cukup berani untuk melatih sayapnya sampai kesana.

Jauh didepan sana dedaunan saling bertaut. Sangat sulit untuk melihat apa yang ada dibaliknya. Perlahan-lahan angin yang bertiup membawa serta bau busuk yang menyengat.

”Kita sudah dekat dengan tempat monster itu tinggal.” suara Totty terdengar sangat ketakutan.

”Baunya busuk sekali. Lebih bau daripada kentut Paman Musang yang tinggal disebelah sarangku.” kata Bumbee berusaha bercanda untuk mengatasi rasa takut mereka. Paling tidak ia berhasil membuat teman-temanya tertawa.

Lebat dedaunan mulai tersibak. Sebagian dari sesuatu yang aneh tampak oleh mereka.

”Oh! Itu monsternya!” kata Totty memberi tahu teman-temannya.

”Aaaarrrrghhhh…….!!!” Buffy kupu-kupu menjerit spontan. Suaranya membuat teman-temanya yang lain terkejut.

”Buffy jangan menjerit, monster itu mungkin akan medengarmu.” kata Atta dengan sabar.

”Kalau sekali lagi kau menjerit, aku akan menyembunyikanmu diantara bulu-buluku. Dasar penakut!” ancam bumbee dengan serius

”Aku kan kupu-kupu perempuan, jadi wajar saja kalau aku takut.”  kata Buffy tak mau kalah. ”Coba saja kalau kau berani menyembunyikanku diantara bulu-bulumu Bumbee, aku akan membuat kulitmu gatal!”

”Teman-teman jangan ribut.” Totty burung kecil berusaha membuat kedua temannya berhenti bertengkar dengan suaranya yang nyaring. Mereka bertiga menjadi sangat ribut dan Atta si semut yang mungil itu hanya bisa melotot ke arah kawan-kawannya.

Tiba-tiba mereka mendengar suara lain yang bukan suara salah satu dari mereka.

”Sssssstttt! Ssssssst…….!!!”

Keempat sahabat itu terkejut ketakutan. Mereka saling berpelukan erat saat suara itu terdengar lagi.

”Ssssssstttt!”

Semak-semak didepan mereka mulai bergerak-gerak, dan munculah seekor ular.

”Ssssssttt… kalian jangan berisik! Kami para binatang penghuni Ararimba sedang mengamati gunung busuk.” kata si ular menjelaskan

”Gunung busuk….?” keempat sahabat itu bertanya bersamaan dengan heran.

Berkumpulah dengan kami.” undang si ular mengajak keempat sahabat itu memasuki semak belukar.

Diantara semak-semak itu, telah berkumpul hewan-hewan penghuni Ararimba.

”Halo teman-teman.” sapa Sang Singa.

”Halo Tuan Singa.” sahut Atta dengan ramah.

”Kalian pasti datang kemari karena penasaran dan ingin melihat apa yang menyebakan bau busuk di Ararimba bukan?”

”Tooty burung kecil teman kami bilang, ada monster besar bebau busuk di Ararimba.” Atta menjelaskan dengan sopan.

Lihatlah lebih dekat kawa-kawan. Maka kita akan tahu seperti apa monster itu.” jawab Sang Singa.

Keempat sahabat itu berjalan perlahan, mengintip diantara belukar, untuk melihat lebih dekat sumber bau busuk yang telah mencemari Ararimba. Dengan ragu-ragu mereka menjulurkan kepala mereka untuk melihat lebih jelas. Ada sesuatu yang sangat besar, menyerupai gunung, warnanya sangat aneh dan terlihat kotor, dan baunya tidak diragukan lagi, sangat busuk. Monster itu memang lebih mirip gunung. Tidak ada yang tahu pasti dimana letak mata, hidung, telingan dan mulutnya.

”Apakah monster itu sedang tertidur Tuan Singa?” tanya Bumbee sang kelinci.

”Sebenarnya dia bukan monster. Tidak seperti yang kalian bayangkan.” kata Sang Singa. ”Gunung busuk itu adalah timbunan sampah, manusia membuang sampah mereka hingga menggunung dan mengotori Ararimba.”

”Sampah…? apakah gunung sampah busuk itu sama berbahayanya dengan monster, Tuan Singa?” tanya Tooty bersungguh-sungguh.

”Benar nak, gunung sampah busuk itu sama berbahaynya dengan monster. jika manusia hanya menimbunnya saja, maka hutan kita suatu hari nanti akan tertutup sampah. Dan hujan yang akan turun beberapa bulan lagi akan membuat gunung sampah busuk itu berserakan dimana-mana dan sangat mungkin terjadi banjir yang bercampur dengan sampah.”

”Lantas apa yang bisa kita lakukan?” tanya Atta sungguh-sungguh ingin tahu.

”Mencari tempat tinggal yang lebih baik. Mencari hutan lain yang lebih baik.” jawab Sang Singa pelan.

”Lantas bagaimana kalau Ararimba adalah hutan terakhir, bagaimana jika semua hutan di bumi telah habis dan rusak?” tanya Bumbee khawatir.

”Adakah tempat lain untuku bernyanyi Tuan Singa?” tanya Tooty sedih.

”Aku minta maaf kalau tidak bisa menemukan tempat yang lebih bagus agar kau bisa bernyanyi lagi Tooty. Tapi kita akan berusaha dan aku akan sangat sedih kalau tidak bisa mendengarmu bernyanyi lagi.”

Hewan-hewan penghuni Ararimba menunduk sedih dan berdo’a dalam hati, berharap semuanya akan baik-baik saja.

  Sanur, 24 Januari 2008 – 5:58 pm

(by: Frilia)

Sebuah cerita pendek tentang sampah yang saya tulis empat tahun yang lalu; atas permintaan teman untuk buletin Pendidikan Lingkungan yang mereka terbitkan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s