Photo by: Putri Ayusha


Wednesday, December 10, 2014



Focus on the left side. Focus on that cute-silly-face. She is one of my dearest friends; Putri Ayusha.

I just viewed my mobile galleries and found this photo which brought me back to a moment….

Couple weeks ago, in one of my work-trip, she took me to Kineruku, the book corner. A nice place to read in Bandung, West Java.

After ordered some beverages to drink, searched some books to read, she sat next to me with an orange book in her hand.

Photo by: Putri Ayusha

Photo by: Putri Ayusha

From a quick glance I saw the tittle: “Love”. Then we stared to each other. From her eyes I can read what she tried to say to me “Hey, look what I found! Treasure!” And me… as always; underestimate everything (my negative side I hate but hard to change).

She opened the first page, then second page, third… fourth… Wait! It was not a book about stupid love between two teenagers as I thought before. It was…illustrated book. Colorful pages. It was interesting children book!

Putri only needed five minutes to read it. With her winning face she slide the book to me… then together we read…

Love is a simple book about abandon-unwanted little girl who will teaches us about LOVE. Simply written but successfully will grabbed your emotion.

I ended up with crying, sniffing my nose, shed my tears, while sat on a chair in the main table with other readers next to us. And Putri, off course… laughing out on that silly situation.

I’ve learnt two things from that book:

  1. There is no naughty children in this world. If you find one naughty, he/she maybe just lonely. All a child needs is just little attention, patience, and LOVE.
  2. Do not underestimate something you don’t know. ‘Don’t judge the book from the tittle’ is very well said.


Aku Lupa Sejarah Bangsa!

sejarah indonesia

Bandung sea of fire. What happened in Bandung that day? tanya seorang teman berkebangsaan Amerika.

Beberapa jam kemudian, di pojok ruangan…. an fb chat is open.. conversation began between me and an old pal

Me: Mbakyu, jika ada teman (non Indonesian) bertanya padamu secara tiba-tiba… apa yang terjadi di Bandung saat sejarah Bandung Lautan Api… apakah Dirimu langsung bisa menjawabnya…? atau harus Googleing dulu?
Mbakyu: Googleing dulu untuk memberikan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan.
Me: ..tapi masalahnya, kau dan dia sedang ditengah sawah misalnya (atau lokasi lain yang serupa) direct conversation… dan tidak bisa Googleing at that time… kira-kira bisa jawab gak?
Mbakyu: ..maka alihkan pertanyaan dia dengan apa yang sedang anda berdua hadapi saat itu; keindahan sawah

(Si mbakyu yang satu ini memang terkenal kreatif)

Me: That happened to me mbak… and I said… ‘I don’t remember…’ Lalu sambil malu aku mulai bertanya-tanya dalam hati… “apakah hanya aku saja, anak Indonesia yang tidak hapal sejarah bangsanya?”….
Mbakyu: Tenang, menjadi satu-satunya anak Indonesia yang tidak hapal sejarah bangsanya bukanlah sesuatu yang terlalu buruk… *puk puk puk
Me: Jadi Anda hapal sejarah Bandung Lautan Api ya!!??
Tentu TIDAK!!


Tidak puas, saya lanjutkan survey pada beberapa teman yang lain dan mendapatkan jawaban yang nyaris sama; “tidak ingat!“the done is done” “biarlah sejarah menjadi masa lalu“… …

Lalu, apa yang salah disini….?

Saya ingat saat SD, guru seni suara menyuruh kami menghafal lagu Halo Halo Bandung dan menyanyikanya di depan kelas. Liriknya simple saja, mudah dihapal… Saya juga ingat, saat itu ada seorang teman yang menyanyikannya dengan asal-asalan dan Si Guru Seni Suara melotot sambil marah “Yang semangat!! Nyanyi Halo Halo Bandung itu harus Semangat!! Nangis pahlawanmu nanti kalau kamu nyanyinya lemes. Ayo ulangi!

Dan sepanjang ingatan saya dalam mata pelajaran sejarah adalah; guru menyuruh kami mencatat… mencatat.. dan mencatat lagi. Banyak sekali catatan… sejak SD sampai SMA. Setelah mencatat, kami diminta mengahafal… menghafal… dan menghafal agar bisa menjawab soal ulangan.

Apakah setelah ulangan kami boleh melupakan apa yang kami hafal? Memang tidak pernah ada murid yang menanyakan demikian, tapi itulah yang banyak terjadi; Saya melupakannya, tepat setelah kertas ulangan saya kumpulkan.

Jika guru sejarah punya metode mengajar sejarah yang tidak hanya sekedar mencatat dan menghafal, tapi lebih pada memahami sebuah kisah sejarah, mengkritisi, dan menghayati nilai-nilai dibaliknya… mungkin Pelajaran Sejarah akan punya makna yang berbeda; as a lesson to learn,  not only a subject to remember.

Putus asa mengingat tentang sejarah Bandung Lautan Api, akhirnya saya Googleing dan mendapatkan jawabannya:

Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Sekarang saya paham, kenapa para pahlawan akan menangis jika generasi muda menyanyikan lagu Halo Halo Bandung sambil malas-malasan.















Nusa Penida, October 17, 2013 -THE FIGHT to save the one of the world’s most endangered birds, the Bali starling, just got a major boost with the hatching of four healthy tiny chicks at Friends of the National Parks Foundation’s (FNPF) center on Nusa Penida island.

The tiny chicks, hatched about a fortnight ago, are the offspring of two pairs of birds at our community center in the island’s Ped village.

We brought the hatchlings’ parents, from West Java’s Soehana Oetodjo, one of Indonesia’s most experienced Bali Starling breeders, to Nusa Penida last December in the hope they would breed. They came with six other Bali starlings, which were released on nearby Lembongan island.


 One of the four healthy chicks at FNPF’s community center on Nusa Penida island

“It’s very exciting – these are the first offspring after 10 months,” says FNPF’s Founder and CEO, Dr I.G.N. Bayu Wirayudha. “We would like to show to people interested in the captive breeding of starlings for conservation that you don’t need fancy cages. We used very simple, secure, inexpensive enclosures, which met wildlife welfare standards – something that people on Nusa Penida can copy.

“Also we trained our local staff to breed the birds, showing you don’t need any specialist skill to do this – it’s very much about how much you care about the birds,” he says.

FNPF is a grassroots conservation NGO, working to protect wildlife and its habitat, at the same time as supporting local communities. Our projects have been recognized by global organizations such as the United Nations Development Programme and the Whitley Fund for Nature.

FNPF has transformed Nusa Penida, 14km off the coast of Bali, into an unofficial bird sanctuary and a haven for the Bali starling. We gained the trust of the 46 villages and persuaded each to introduce traditional Ballinese regulations to protect endangered birds and Bali’s emblem bird, the Bali Starling (Leucopsar rothschildi), from poachers and wildlife traders.

Today the sanctuary, which also takes in two nearby islands, is estimated to be home to more than 100 Bali starlings. When we started in 2006 there were believed to be less than 10 of these birds surviving in the wild.

FNPF’s Nusa Penida Bird Keeper Nengah Sudipa, himself a former wild bird poacher, is rapt with the new arrivals. “I am so happy.”

He helped to select the birds that would be kept for breeding from 10 Bali starlings that arrived last year. “I watched for 10 days and finally determined the two pairs that looked harmonious and often sing together. After four months, I was worried because the birds only make nests and did not lay the eggs.”

Nengah was thinking about releasing the starlings because they didn’t seem interested in breeding. “Luckily, God answered my question. The next morning when I cleaned the nest box it contained two chicks. I am so happy and busy going back and forth to make sure they are healthy. Two days later, two tiny chicks hatched again from the next cage.”

Dr Wirayudha says next year some of the hatchlings will be released on Nusa Penida, and some loaned to local people interested in getting involved in captive breeding. “Whoever is given the opportunity of a breeding loan should return at least double the number of birds that they receive, and those birds can then be released back on Penida.”

FNPF has won the ongoing commitment and support of the Penida communities to help protect birds through its work operating a variety of community development and community education projects, all of which bring social and economic benefits to the local residents.

We rely solely on donations to fund our work saving the endemic a Bali starling. Please support our project by sponsoring the rehabilitation and release of a Bali starling or Sponsor a Bali Starling nestbox and we will attach a plaque in your name. Thank you to Alan El Kadhi for covering the cost of purchasing these 10 Bali starlings.

For more information or to arrange an interview please contact FNPF’s Communication Manager Kirana Agustina on (+62361) 977978 or at

“Serius?! You kill the snakes for bag?!!

Saya belum pernah semarah ini sebelumnya. Beberapa menit yang lalu saya melihat seorang teman meng-upload fotonya di facebook. Pertama saya penasaran dengan fotonya, kelihatan tidak umum. Ternyata setelah saya amati lagi itu adalah foto ular mati yang digantung. Ada sekitar 6 atau 7 ekor ular. Jenisnya kalau tidak salah adalah Boa atau Phiton. Besar-besar. Mulut ular-ular itu dipaku pada sebuah kayu yang tergantung horisontal di atap. Dan teman saya berpose manis di samping mayat ular yang berjajar.

Kemudian saya membaca komen-komen yang muncul, kebanyakan komen “positif” seperti ‘Keren & Cool’. Saya tidak habis pikir, sebelah mananya yang keren!! Dan akhirnya ada komen teman saya yang menjelaskan bahwa itu adalah foto ular-ular yang akan dijadikan TAS! “Silahkan mampir, tempatnya tidak jauh dari kantor, Ellys jangan lupa beli, sedang produksi.”

Tanpa pikir dua kali saya klik comment box dan mengetik “Serius?! You kill the snake for bag!??” dan muncullah komen-komen miring mengikuti seperti “Kasihan ularnya T_T…. ” dsb.

Beberapa menit kemudian, foto itu hilang “This content is currently unavailable” sepertinya sudah di remove oleh yang punya.

Mungkin ini hanya perasaan saya, tapi saya melihat ada kesan Pro-pembantaian Ular dari foto dan komentar yang ada. Bukannya saya Sok konservasi, tapi masalahnya teman saya itu bekerja di BKSDA SKW II Pangkalan Bun. Sebuah Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, yang mempunyai tugas penyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan pengelolaan kawasan cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam, koordinasi teknis pengelolaan taman hutan raya dan hutan lindung.

Saya berhak marah dan jengkel bukan?


Monster di Ararimba

Di hutan Ararimba tinggalah beberapa binatang yang saling bersahabat. Mereka adalah Atta si semut, Buffy kupu-kupu, Bumbee sang kelinci, dan Tooty burung kecil.

Tooty burung kecil adalah seekor bayi burung, tetapi ia sudah bisa terbang dan bernyanyi. Burung kecil yang malang ini tidak mempunyai papa dan mama, ia hidup sebatang kara. Telurnya menetas karena hangat sinar matahari dan karena sahabat-sahabatnya menjaga telur itu dengan sangat baik.

Meskipun demikian, Tooty tidak pernah bersedih, ia selalu menyambut hari dengan riang, dengan senyumnya dan nyanyian gembira yang tidak pernah berhenti terdengar di Ararimba.

Tetapi hari ini lain. Ararimba tampak berbeda, tidak ada lagu gembira dari Tooty burung kecil. Ararimba bersedih hari ini.

“Aku takut.” Kata Tooty tiba-tiba dari pucuk batang pohon.

”Apakah itu yang membuatmu berhenti bernyanyi hari ini tooty?” tanya Atta si semut dengan lembut.

”Hu uh.” Tooty mengangguk lemas.

”Tapi apa yang kau takutkan Tooty?” tanya Buffy kupu-kupu.

”Aku telah melihat Monster!” jawab Tooty.

”Monster!!” seketika Bummbee sang kelinci berhenti mengunyah wortelnya. Dengan kacau ia berusaha bersembunyi diantara semak-semak yang tidak mampu menutupi tubuhnya yang gendut. ”Dimana monsternya…? dimana…?!!” Bumbee mulai berteriak-teriak ketakutan.

”Diamlah Bumbee… biarkan Tooty bercerita” kata Buffy kesal.

”Apakah kau bermimpi bertemu monster Totty?” Atta selalu menjadi yang paling sabar dan bijaksana di antara mereka.

”No…no…. tidak teman-teman…. aku benar-benar melihatnya. Hiks..hiks… huaaa…huaa….” Totty burung kecil mulai menangis dengan nyaring.

”Cup cup cup… diamlah Totty… katakan kepada kami apa yang sedang terjadi!” kata buffy dengan frustasi berusaha membuat teman kecilnya berhenti menangis, ia sibuk beterbangan ke sana kemari.

”Dimana kau melihatnya tooty? Seperti apa bentuknya? Maukah kau berhenti menangis dan menceritakanya kepada kami?” kata Atta si semut.

”Aku melihatnya tadi saat aku melatih sayapku, terbang ke sudut timur Ararimba. Monster itu menakutkan! Sangat besar, berwarna buruk, dan berbau busuk. Hua….hua…. hua…..” Totty mengakhiri cerita singkatnya dengan menangis lagi.

”Kalau kami memintamu mengantarkan kami ke tempat monster itu apakah kau berani Totty?”

”Kami? Apa maksudmu dengan kami Bumbee?” tanya Buffy curiga.

”Kami, berarti Atta, kau, dan aku. Karena kita tidak akan tahu pasti bagaimana harus bertindak jika kita tidak melihatnya sendiri.” tidak seekorpun dari mereka tahu darimana Bumbee mendapatkan keberaniannya. Tetapi mereka setuju dengan ide itu dan meminta Totty burung kecil untuk menjadi pemberani dan mengantar mereka ke tempat Monster itu tinggal.


Keempat sahabat itu berjalan menyusuri jalur kecil Ararimba yang mengarah ke sudut timur. Mereka berjuang untuk menyembunyikan rasa takut yang datang. Sudut timur Araimba sangat gelap, pepohan disana jauh lebih lebat dari sudut Ararimaba yang lain. Mereka semua mengakui bahwaTotty burung kecil cukup berani untuk melatih sayapnya sampai kesana.

Jauh didepan sana dedaunan saling bertaut. Sangat sulit untuk melihat apa yang ada dibaliknya. Perlahan-lahan angin yang bertiup membawa serta bau busuk yang menyengat.

”Kita sudah dekat dengan tempat monster itu tinggal.” suara Totty terdengar sangat ketakutan.

”Baunya busuk sekali. Lebih bau daripada kentut Paman Musang yang tinggal disebelah sarangku.” kata Bumbee berusaha bercanda untuk mengatasi rasa takut mereka. Paling tidak ia berhasil membuat teman-temanya tertawa.

Lebat dedaunan mulai tersibak. Sebagian dari sesuatu yang aneh tampak oleh mereka.

”Oh! Itu monsternya!” kata Totty memberi tahu teman-temannya.

”Aaaarrrrghhhh…….!!!” Buffy kupu-kupu menjerit spontan. Suaranya membuat teman-temanya yang lain terkejut.

”Buffy jangan menjerit, monster itu mungkin akan medengarmu.” kata Atta dengan sabar.

”Kalau sekali lagi kau menjerit, aku akan menyembunyikanmu diantara bulu-buluku. Dasar penakut!” ancam bumbee dengan serius

”Aku kan kupu-kupu perempuan, jadi wajar saja kalau aku takut.”  kata Buffy tak mau kalah. ”Coba saja kalau kau berani menyembunyikanku diantara bulu-bulumu Bumbee, aku akan membuat kulitmu gatal!”

”Teman-teman jangan ribut.” Totty burung kecil berusaha membuat kedua temannya berhenti bertengkar dengan suaranya yang nyaring. Mereka bertiga menjadi sangat ribut dan Atta si semut yang mungil itu hanya bisa melotot ke arah kawan-kawannya.

Tiba-tiba mereka mendengar suara lain yang bukan suara salah satu dari mereka.

”Sssssstttt! Ssssssst…….!!!”

Keempat sahabat itu terkejut ketakutan. Mereka saling berpelukan erat saat suara itu terdengar lagi.


Semak-semak didepan mereka mulai bergerak-gerak, dan munculah seekor ular.

”Ssssssttt… kalian jangan berisik! Kami para binatang penghuni Ararimba sedang mengamati gunung busuk.” kata si ular menjelaskan

”Gunung busuk….?” keempat sahabat itu bertanya bersamaan dengan heran.

Berkumpulah dengan kami.” undang si ular mengajak keempat sahabat itu memasuki semak belukar.

Diantara semak-semak itu, telah berkumpul hewan-hewan penghuni Ararimba.

”Halo teman-teman.” sapa Sang Singa.

”Halo Tuan Singa.” sahut Atta dengan ramah.

”Kalian pasti datang kemari karena penasaran dan ingin melihat apa yang menyebakan bau busuk di Ararimba bukan?”

”Tooty burung kecil teman kami bilang, ada monster besar bebau busuk di Ararimba.” Atta menjelaskan dengan sopan.

Lihatlah lebih dekat kawa-kawan. Maka kita akan tahu seperti apa monster itu.” jawab Sang Singa.

Keempat sahabat itu berjalan perlahan, mengintip diantara belukar, untuk melihat lebih dekat sumber bau busuk yang telah mencemari Ararimba. Dengan ragu-ragu mereka menjulurkan kepala mereka untuk melihat lebih jelas. Ada sesuatu yang sangat besar, menyerupai gunung, warnanya sangat aneh dan terlihat kotor, dan baunya tidak diragukan lagi, sangat busuk. Monster itu memang lebih mirip gunung. Tidak ada yang tahu pasti dimana letak mata, hidung, telingan dan mulutnya.

”Apakah monster itu sedang tertidur Tuan Singa?” tanya Bumbee sang kelinci.

”Sebenarnya dia bukan monster. Tidak seperti yang kalian bayangkan.” kata Sang Singa. ”Gunung busuk itu adalah timbunan sampah, manusia membuang sampah mereka hingga menggunung dan mengotori Ararimba.”

”Sampah…? apakah gunung sampah busuk itu sama berbahayanya dengan monster, Tuan Singa?” tanya Tooty bersungguh-sungguh.

”Benar nak, gunung sampah busuk itu sama berbahaynya dengan monster. jika manusia hanya menimbunnya saja, maka hutan kita suatu hari nanti akan tertutup sampah. Dan hujan yang akan turun beberapa bulan lagi akan membuat gunung sampah busuk itu berserakan dimana-mana dan sangat mungkin terjadi banjir yang bercampur dengan sampah.”

”Lantas apa yang bisa kita lakukan?” tanya Atta sungguh-sungguh ingin tahu.

”Mencari tempat tinggal yang lebih baik. Mencari hutan lain yang lebih baik.” jawab Sang Singa pelan.

”Lantas bagaimana kalau Ararimba adalah hutan terakhir, bagaimana jika semua hutan di bumi telah habis dan rusak?” tanya Bumbee khawatir.

”Adakah tempat lain untuku bernyanyi Tuan Singa?” tanya Tooty sedih.

”Aku minta maaf kalau tidak bisa menemukan tempat yang lebih bagus agar kau bisa bernyanyi lagi Tooty. Tapi kita akan berusaha dan aku akan sangat sedih kalau tidak bisa mendengarmu bernyanyi lagi.”

Hewan-hewan penghuni Ararimba menunduk sedih dan berdo’a dalam hati, berharap semuanya akan baik-baik saja.

  Sanur, 24 Januari 2008 – 5:58 pm

(by: Frilia)

Sebuah cerita pendek tentang sampah yang saya tulis empat tahun yang lalu; atas permintaan teman untuk buletin Pendidikan Lingkungan yang mereka terbitkan :)

Sayur Organic - Dusun Brenjonk

Brenjonk Village: Mengintip Petani Sayur Organik

Berkunjung ke Dusun Brenjonk, Desa Pananggungan, Kecamatan Trawas Mojokerto – Jawa Timur. Tempat dimana kakak perempuan saya bekerja sebagai pendamping petani sayur organik Kelompok Tani Brenjonk. Awalnya cuma niat mensucikan pikiran dari hingar bingar Kota Denpasar. Hibernasi sebentar di rumah kakak di desa. Tetapi sayang kalau cuma dilewatkan untuk tiduran. Jadi waktu itu saya putuskan untuk “membuntutinya” bekerja.

Dia mengajak saya berjalan kaki keliling dusun. Karena lokasinya di pegunungan, bisa dibayangkan tracknya menanjak dan menurun. Wah.. sudah lama saya tidak jalan kaki. Di Denpasar harus naik motor kesana kemari. Tidak ada jalur pedestrian yang memadai, tidak ada publik transport yang mencukupi, bla bla bla… #kok malah curhat#.

Keliling dusun bukan untuk aksi pemetaan. Tetapi kami mengunjungi green house sayuran milik para petani. Ada green house kecil yang berukuran 3×4 meter, dan ada yang lebih besar dengan ukuran 5×10 meter. Dan uniknya green house-green house itu dibangun di pekarangan rumah para petani. Saya takjub karena ada banyak ragam sayuran disana. Mulai dari terung, cabe,  bayam, pakcoy, sawi, kubis, kembang kol, selada, kailan, brokoli, kangkung, dan ada juga tanaman lain seperti pisang, salak, durian, alpukat, pare, mentimun, markisa yang ditanam disekitar pekarangan mereka.

Saya mengamati kakak bekerja, membawa pensil dan kertas, menghitung jumlah sayur siap panen, mencatatnya, kemudian mengukur panjang sayur, mencatatnya lagi. Membuat saya penasaran; apa sih sebenernya pekerjaannya? Dan saya mulai melakukan aksi wawancara!

Kelompok Tani Brenjonk adalah program pemberdayaan masyarakat di bidang produksi sayur dan buah organic serta pemasaran. Pada tahun 2010, Kelompok Tani Brenjonk mendapat bantuan dana dari PTPN untuk membuat 10 green house kecil seluas 3×4 meter. Green house ini diberikan gratis kepada penduduk Dusun Brenjonk yang punya pekarangan kosong dan mau menanam sayuran atau buah-buahan organic. Selanjutnya, Kelompok Tani Brenjonk akan memberikan pendampingan pada petani dalam pembibitan, penanaman, pemupukan, penanggulangan hama, sertifikasi organik, hingga pemasaran.

Program ini berkembang cukup baik. Tahun 2011 – 2012, Kelompok Tani Brenjonk selanjutnya mendapat bantuan dana dari HPSPina Belanda. Hingga saat ini total petani yang mendapat bantuan Green House mencapai 40 petani. Untuk membantu petani, Green Hause yang lebih besar dengan ukuran 5 x 10 meter diberikan secara kredit.

Dan kakak saya adalah satu dari dua Pendamping Lapang Kelompok Tani Brenjonk. Tugas pendamping adalah:

  • Melakukan prediksi panen

Setiap satu minggu dua kali, pendamping harus melakukan pendataan produksi. Dari green house ke green house mengecek penanaman, mengukur tinggi sayuran, menghitung bunga dan buah, dan selanjutnya membuat perediksi panen sebagai info produk untuk tim marketing. Data ini dibutuhkan oleh tim marketing sebagai info update produksi kepada para konsumen.

  • Melakukan pendampingan untuk hama penyakit dan pemupukuan

Saat melakukan kunjungan, mereka selalu membawa kamera poket. Siap memotret dan membuat catan-catatan jika melihat sayur atau buah yang terserang hama. selanjutnya data tersebut akan diserahkan kepada ahli hama Kelompok Tani Brenjonk untuk ditindaklajuti.

Masukan dan cara-cara penanggulangan hama oleh para ahli akan diteruskan kembali kepada petani untuk diterapkan pada tanaman mereka.

  •  Membantu petani dalam sertifikasi organik

Saat ini pertanian sayur dan buah di Dusun Brenjonk telah mendapatkan sertifikasi organik dari PAMOR (Penjaminan Mutu Organik) dan sedang dalam proses seritifikasi oleh Biocert – AOI (Aliansi Organik Indonesia). Dalam hal ini, pedamping bertugas untuk membantu petani menyelesaikan semua administrasi untuk kelancaran proses sertifikasi.

  •  Buku Saku untuk info petani

Secara periodik, pendamping akan menentukan satu jenis produksi yang paling berhasil dan siapa petaninya. Informasi tentang keberhasilan tersebut akan dituangkan dalam buku saku untuk dibagikan kepada para petani sebagai catatan pembelajaran. Selain itu petani yang berhasil harus menceritakan kiat-kiat keberhasilannya dalam acara sosialisasi dan sharing yang diadakan tiap dua bulan sekali. Pada akhir program kumpulan buku saku akan dibukukan sebagai media informasi.

Kegiatan penulisan buku saku, sosialisasi dan sharing telah memicu para petani untuk bersaing sehat menghasilakn produksi terbaik!

  •  Pendekatan personal kepada petani

Setiap petani memiliki jadwal tanam. Kadang-kadang para petani tidak melakukan penanaman sesuai jadwal. Adakalanya mereka jenuh dan tidak menggarap green house selama satu musim tanam. Saat inilah pendamping dituntut untuk melakukan pendekatan kepada petani. Mencari tahu mengapa mereka tidak menanam sesuai jadwal, mengapa hasil panen mereka menurun, dan mengapa green house-nya tidak diurus. Para pendamping harus bisa mendorong petani untuk tetap semangat menghasilkan produk-produk sayur dan buah organic sebagai komoditas Dusun Brenjonk.

My Sist has a lovely job!! :)

Kids and Their Local Wisdom

Polahbocah Berubah Haluan…

Biasanya dalam makalah atau proposal ada satu bab sendiri yang judulnya “LATAR BELAKANG”. Saya kok jadi terilhami dan merasa berdosa jika tidak menceritakan latar belakang blog ini sebelum mulai mem-posting tulisan-tulisan “sampah” saya dikemudian hari.

Baiklah… begini latar belakangnya.

Sekitar setahun yang lalu, saya dan seorang teman iseng-iseng mengobrol tentang masa kecil. Bicara tentang dongeng dan tembang dolanan.

“Masih ingat lagu.. Pok pok pok, dem dem dem! Ji walang kaji kokok beluk dem dem! Siti nduk kali Jembluk nduk embong.. Siti njaluk rabi diolehno kucing garong!!”

Kemudian kami menghabiskan malam sambil bertukar ingatan tentang dongeng dan lagu dolanan. Lantas muncul keprihatinan; Jaman sekarang dongeng apa ya.. yang didengar anak-anak? Goldilocks and The Three Bears? Beauty and the Beast? Cinderella? Bagaimana dengan Sangkuriang? Uthek-uthek Ugel? Kancil Mencuri Ketimun? dan dongeng-dongeng lokal lainnya?

Dan… seperti biasa, munculah ide membuat blog yang khusus memuat dongeng dan tembang dolanan. Maka lahirlah Polahbocah yang misinya adalah Lestarikan Dongeng dan Tembang Dolanan!!

Tetapi ternyata tidak gampang mengumpulkan dongeng dan tembang dolanan lokal dari Sabang sampai Merauke. Selama setahun, kami hanya berhasil memposting DUA buah dongeng! Payah! Memang butuh energi ekstra, kemauan keras, ketulusan hati, komitmen, dan sebagainya… dan sebagainya.

Saya tidak tega melihat Blog ini terbengkalai. Jadi saya putuskan untuk berubah haluan dan memanfaatkannya sebagai Ladang Pribadi saya menulis “sampah”. Siapa tahu berawal dari sini penyakit malas nulis bisa sembuh dan menjadi writingaholic #tiap berenti nulis langsung sakau# Amin!

Siapa tahu juga, kalau ada orang yang membaca postingan ini trus jadi trenyuh dan bersemangat melanjutkan MISI awal kami. Semoga… :)